Perekonomian Myanmar
Sebelum
berbicara jauh mengenai perekonomian
dari Negara dengan sebutan BIRMA dinegara barat ini, terlebih dahulu saya ingin
mengajak pembaca untuk mengetahui terlebih dulu mengenai Negara yang termasuk
dalam kawasan Asia Tenggara ini. Myanmar yang bersebelahan langsung dengan
China dan Thailand merupakan Negara dengan luas 680 ribu km² yang telah
diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun
1988. Negara Myanmar merupakan salah
satu Negara berkembang yang ada di Asia Tenggara.
Perekonomian
Negara yang berada dalam kawasan Asia Tenggara memang masih banyak bergantung
dari hasil alam, dengan pengecualian Negara Singapura yang menjadi satu –
satunya Negara Maju dikawasan ini. Hal ini terbukti dari banyaknya penduduk Myanmar
yang bermata pencaharian sebagai petani, pekebun, dan penambang. Dengan padi
yang menjadi hasil utama dari pertanian mereka, bahkan dahulu Myanmar sempat
menjadi penghasil padi terbesar di Asia Tenggara. Sehingga membuat beras
menjadi ekspor utama bagi Negara ini selain dari hasil laut, mineral dan
batuan.
Industry
utama Negara ini dikontrol oleh militer yang dikelola perusahaan – perusahaan Negara,
membuat hambatan yang signifikan untuk
perusahaan swasta. Selain kebijakan
ekonomi
tidak jelas, inflasi, nilai tukar distorsi, korupsi, kontrol pada
perdagangan,
dan pengambilan keputusan dengan sewenang-wenang oleh pihak yang
berkuasa. Iklim investasi yang buruk juga memperlambat arus nilai tukar
asing.
Krisis dalam investasi sektor perbankan swasta telah
menghambat pertumbuhan sektor swasta dan membuat putus asa perekonomian dalam
dan luar negeri.
Hingga
akhirnya SPDC kebijakan ekonomi pasar terbuka telah membawa banjir investasi
asing diindustri minyak dan gas (oleh perusahaab Barat), dan kehutanan,
pariwisata, dan pertambangan (oleh perusahaan Asia). Gas alam adalah salah satu sumber
terbesar pendapatan ekspor Myanmar , terhitung sekitar 30 persen dari total
ekspor dengan harapan akan terus berlanjutnya pertumbuhan dari indutri ini dan
permintaan energi yang meningkat dari negara-negara tetangga, terutama India,
Cina dan Thailand.
Terdapat perkiraan dari Intelijen
Ekonomi Satuan yang menyatakan bahwa perekonomian Negara ini akan tumbuh
sekitar 2-3 persen pada 2008, namun juga kan diringi dengan inflasi yang akan
terus meningkat, dan meskipun pertumbuhan ekonomi cukup baik di sektor minyak
dan gas, namun ekonomi Negara ini akan tetap lemah. Namun hal itu dapat diatasi
baik oleh Myanmar dengan bukti Dana Moneter
Internasional atau IMF yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Myanmar pada
tahun fiskal 2012 bisa mencapai sekitar 6%, meningkat dibanding tahun
sebelumnya yang hanya sebesar 5,5%. Pada
tahun-tahun sebelumnya, laju inflasi Myanmar cenderung tinggi hingga mencapai 2
digit karena kebijakan Bank Sentral yang terus menerus mencetak kyatt. Namun meskipun
inflasi tidak pernah lepas dari perekonomian Negara ini, Myanmar dapat
membuktikan dirinya dapat bangkit dari keterlambatan ekonomi mereka, seperti
yang dilansir oleh salah satu sumber blog saya yang menuliskan “YANGON, Myanmar
- IMF mengumumkan pada hari Rabu (22 Mei) bahwa ekonomi Myanmar tumbuh 6,5% tahun
2012 dan berada pada jalur percepatan yang lebih baik menuju tingkat
pertumbuhan 6,75% pada tahun 2013-2014, demikian lapor AFP.”
Komentar
Posting Komentar